Sabtu, 02 Mei 2009

masih banyaaaak cita-cita

Gampangnya waktu kecil jika ditanya mau jadi apa kalau sudah besar, kita semua menjawab , "jadi dokter!". Itu jawaban pertama yang nilainya A. Jawaban populer yang ke-2, "jadi insinyur". Dan anak-anak laki teman saya demen dengan profesi "jadi pilot". Entah dokter apa, insinyur apa, pilot pesawat apa, pokoknya itu profesi-profesi keren zaman itu. Ketika kita kerjaannya kalau tidak bermain, ya bermain lagi.
Saya memilih jawaban yang tidak ada di multiple choise waktu itu.
Saya memilih jadi dokter juga. Tapi geser dikit, dokter hewan. Karena saya pengen ke Afrika dengan baju safari --Indiana jones gitu maksunya-- untuk menguber-uber singa ngantuk dengan jeep terbuka. Gagah berani.

Tapi suatu hari saya mendadak berubah fikiran.
Saya mau jadi penulis saja. Kerjaannya cuma menulis aja, kan. Tidak perlu mandi kalau mau ngantor. Ga pakai baju seragam kayak PNS. Jam kerjanya dinamis. Tidak terikat jam check clock di pojokan pintu masuk itu, yang telat 1 menit saja angkanya jadi merah dan kertas absen melompat, seperti roti bakar yang marah di pagi yang buru-buru, keluar dari mesin panggangan yang mirip radio 2 band itu.

dengan cita-cita baru itu saya lalu jadi hobi tugas mengarang di jam pelajaran Bahasa Indonesia. Saya selalu mendapat nilai terbaik di bagian ini. Bukan karena karangan saya bagus. Tapi karena semua teman-teman di kelas malas mengarang di siang bolong yang gerah dan bete. Lebih-lebih jika themanya dipaksakan : Buatlah karangan 1,5 halaman folio dengan judul: Sumber Daya Alam Indonesia yang ada di daerahmu. Siapa yang nahan. jujur aja kan idenya terbatas. Mending sembunyi-sembunyi makan bakso di kantin mbak min.

Waktu berlalu.
Yah,
Kita kerap kan selalu ingin menukar keinginan lama dengan keinginan baru ketika ada keinginan lain muncul. Begitu juga saya. Makin dewasa saya makin realistis (materialistis, maksudnya). Saya ingin suatu hal yang sesuai tuntutan keadaaan emang menuntut-nuntut ini. Saya melupakan cita-cita menjadi penulis. Cita-cita jadi dokter hewan jelas sudah lama tiada, jadi saya ingin suatu hal yang bisa menjmin saya secara finansial. Krena tuntutan keadaan saja, walau saya perempuan, saya juga jadi "wajib" mencari nafkah lho, karena gak ada yang mau menafkahi. he.he.
Akhirnya setelah selesai kuliah dengan memilih fakultas yang populer di dunia mencari nafkah itu, saya akhirnya alhamdulillah berhasil pula menjadi Perempuan Pencari Nafkah.
Pagi ngantor.
Sore pulang ngantor.
Malam kerap ngantor lagi.
Orang kantoran banget (buruh moderenisasi, kata teman saya), yang untuk menjawab email ja syusyah.

Apakah kita harus menyesali karena tidak pernah mencapai apa yang kita cita-citakan ? Jawabnya: jangan. Jangan Menyesali.
Menurut saya, seperti kata seorang teman saya yang gagal diet, hidup itu proses. Apa yang kita lakukan dulu itu membawa kita seperti diri kita yang sekarang (nah, apa yang dia makan dulu itu membawa dia seperti yang sekarang kan : gendut... he.he)

Saya tidak pernah jadi dokter hewan. Ternyata kan kerjaannya jorok dan 'cabul'. Coba lihat, apa yang dilakukan dokter hewan ketika melakukan inseminasi buatan pada sapi-sapi di koperasi peternakan. Saya sumpah, ga melecehkan profesi ini, tapi sungguh, saya gak sampai hati berdekatan dengan hewan-hewan bertubuh besar. Saya juga punya masalah psikologis dengan pup hewan. Padahal hewannya cuma kucing.

Tapi apakah gagal menjadi apa yan g kita cita-citakan, kita lantas berhenti bercita-cita? Atau setelah dewasa, bekerja, hidup dengankarier yang pasti itu, kita berhenti bercita-cita ? jawabnya : jangan. jangan berhenti bercita-cita.
Seperti kata-kata bung karno yang tertulis besar-besar di ruang perpustakaan SD saya, 'GANTUNGLAH CITA-CITAMU SETINGGI BINTANG DI LANGIT ", saya juga ingin menambahkan, Buatlah banyak-banyak cita-citamu karena bintang-bintang di langit itu banyak.

Saya masih punya cita-cita.
Tapi jangan disebarluaskan dulu, ya.
Saya mau jadi ibu rumah tangga dan guru TK.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mereka menghabiskan energi dan waktu untuk menjadi perpanjangan aspirasi rakyat. Tapi mereka sendiri tidak tahu apa yg bertunas di masyarakat. Bagiku ini rancu dan tidak lebih dr perjuangan uang. Tidak akan membawa perubahan kecuali eksploitasi derita. Smg ada yg menghentikan ini.